Rabu, 20 Agustus 2008

MENGKONDISIKAN PANCASILA DALAM GLOBALISASI

MENGKONDISIKAN PANCASILA DALAM GLOBALISASI

Indonesia telah melakukan pembangunan tapi ciri-ciri manusia Indonesia lama tetap ada sebab pembangunan psikis tidak dilakukan sejalan dengan pembangunan fisik. Pertanyaannya, siapkah kita menyongsong globalisasi yang menurut orang sudah menjadi prevalensi dan jargon dunia zaman ini, tanpa meninggalkan atau mengabaikan sebuah atribut penting yang merupakan dasar, pandangan hidup, sumber segala hukum, jiwa kepribadian, perjanjian luhur, serta tujuan yang akan dicapai bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Sebuah pertanyaan retorik yang menggugah nurani kita sebagai generasi muda Indonesia yang selalu mendengarkan serta mengucapkan kata Pancasila dan sila-silanya secara tegas, gamblang, dan lantang hampir tiap minggu ketika sang saka merah putih dikibarkan secara terstruktur dalam sebuah acara yang diistilahkan Upacara bendera.

Menurut Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, 1978, hal 13-45. Ada 10 Ciri-ciri Indonesia lama yang masih melekat diantaranya :

1. Mitos dan Mistik.

Manusia Indonesia masih percaya terhadap mantera-mantera, jimat, dan jampi-jampi yang diberikan dukun. Hal ini tidak rasional, sedangkan di jaman yang modern (global) dan dengan pendidikan yang cukup tinggi rasionalitas sebenarnya lebih menonjol, ditambah pengamalan sila KeTuhanan Yang Maha Esa yang sebenarnya harus lebih ditekankan dan dipandang sebagai hal yang urgensif dan fundamental di zaman ini.

2. Sinkretisme.

Adalah suatu paham yang berusaha memadukan unsur-unsur kepercayaan lama dengan unsur-unsur kepercayaan yang baru, tetapi unsur kepercayaan yang lama masih tetap dipertahankan. Contohnya, walaupun masyarakat Indonesia mengenyam dan minimal berorientasi (walau sedikit) pendidikan Barat yang diasumsikan orang sebagai pendidikan yang cukup rasional, kepercayaan terhadap hal gaib masih tetap ada. Indonesia pun menganut sistem pemerintahan dan bernegara yang demokratis, tapi pada pelaksanaannya praktek-praktek yang penuh nepotisme dan sikap-sikap feodal yang mementingkan pemimpin tetap ada. Berbagai alat transportasi modern masuk ke Indonesia tetapi budaya tertib di jalan belum dilaksanakan.

3. Hipokritis

Adalah sikap munafik atau suka berpura-pura, lain di muka lain di belakang. Orang Indonesia sering menutup-nutupi kenyataan/keadaan yang sebenarnya karena merasa malu atau takut dianggap buruk. Hal ini juga digunakan agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

4. Feodalisme

Adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada atau mengagung-agungkan golongan yang memiliki modal. Segalanya ditentukan atasan. Kemerdekaan Indonesia belum dapat mengikis sifat feodalisme dari bangsa Indonesia, karena bentuk-bentuk feodalisme baru bermunculan di tanah air kita. Hal inilah yang mempersulit perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya pada masyarakat Indonesia sekarang ini. Segala-galanya masih ditutup-tutupi. Keterbukaan belum terjadi. Bila demikian adanya, reformasi total tidak dapat terlaksana dengan sempurna, sifat feodalisme masih kuat dan sangat menghambat kemajuan manusia Indonesia.

5. Percaya Kepada Tahayul yang Sudah Dimodifikasi.

Tahayul pada masa sekarang berupa jargon-jargon, lambing-lambang dan semboyan-semboyan baru yang diyakini memiliki kekuatan tertentu atau pengaruh bagi manusia. Contohnya Tritura, Ampera, Orde Baru, Rule of Law, pemberantasan korupsi, serta insan pembangunan. Ucapan atau semboyan tersebut dijadikan “mantera” dan “jimat”, yang jika diucapkan akan langsung terlaksana, tanpa kerja dan usaha. Pertanyaan yang harus kita jawab adalah apakah manusia Indonesia akan terus menjadi “manusia mantera”? Apakah kita hanya bermain kata sekedar untuk menyenangkan dan membesarkan hati tanpa pelaksanaan?

6. Tidak hemat Atau Bukan Economic Animal ( konsumerisme ).

Perubahan pola hidup seiring dengan meningkatnya kemampuan ekonomi mendorong orang berperilaku konsumtif, yang sifatnya memakai tetapi tidak dapat membuat atau mencipta. Sering kita mambeli barang-barang secara berlebihan yang kadang hanya untuk gengsi. Sikap seperti ini tidak hemat atau bukan animal economic. Untuk memenuhi keinginan tersebut kita bahkan mengeluarkan banyak uang yang belum diterima untuk membeli berbagai barang secara kredit.

7. Suka Menggerutu.

Banyak orang cenderung menggerutu sebagai wujud rasa tidak puas terhadap keinginannya. Sikap menggerutu dapat diartikan sebagai sikap yang tidak berani mengemukakan hal yang mengganjal di hatinya secara terbuka. Keluh kesahnya hanya dikemukakan di belakang orang yang membuatnya menggerutu. Karena keinginannya tidak tercapai, orang yang suka menggerutu menjadi iri dan dengki terhadap orang yang lebih maju atau lebih sukses daripada dia. Sehingga dia diam-diam berusaha menjatuhkan orang yang dicemburui atau yang tidak disukai tadi.

8. Falsafah Kebenaran.

Pada zaman sekarang kebenaran menjadi hal yang rancu. Kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah sebab kebenaran seringkali dimanipulasi. Kebenaran menjadi hal yang relatif, tergantung situasi dan kondisi. Unsur kekuasaan dan kedekatan dengan pusat kekuasaan seringkali menjadi unsur penentu sebuah kebenaran. Semakin sesuai pemikiran atau tindakan seseorang dengan kehendak dan kemauan penguasa, semakin benar pemikiran dan tindakan itu.

9. Suka Meniru.

Pada era globalisasi ini semua bangsa dengan berbagai upaya ingin menjadi bangsa modern, dengan mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Modern diartikan mengacu pada perkembangan masyarakat Barat. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, mengambil alih atau meniru teknologi, pendidikan, ekonomi, industri dari Negara Barat. Tetapi, pada perkembangannya yang diserap tidak hanya unsur-unsur tersebut, tetapi juga gaya hidup orang Barat, seperti cara berpakaian, berbicara, perilaku, norma, dan nilai sehingga seringkali yang terjadi bukan modernisasi melainkan westernisasi ( kebarat-baratan ). Orang yang kebarat-baratan belum tentu modern, karena sikap mentalnya tidak modern, dia hanya mengadaptasi gaya hidup orang barat.

10. Rendahnya Etos Kerja

Suatu Masyarakat yang mamiliki watak budaya santai dalam bekerja, lebih suka bermalas-malasan, malas berpikir, malas bekerja, dan tergantung pada orang lain, maka warga masyarakat itu disebut mempunyai etos kerja rendah. Etos kerja yang rendah pada masyarakat Indonesia salah satunya disebabkan alam Indonesia begitu subur, sehingga apa pun yang dibutuhkan tersedia. Akibatnya, scientific inquiry masyarakat menjadi lemah. Jika gunung meletus berarti dewata marah sehingga perlu dibuatkan sesajen. Sudah saatnya kita memakai logika berpikir sebab-akibat, yaitu terjadinya sesuatu pasti memiliki sebab dan akibat.

Semua hal yang diatas adalah sebuah bahan koreksi diri yang berguna bagi kita dan kelangsungan pancasila. Apakah kita membiarkan semangat pancasila itu semakin lama semakin luntur oleh hal yang tadi Bpk.Mochtar Lubis sebutkan? Ketika seseorang yang mengaku sebagai nasionalis yang paten merendahkan negara Barat (sebut saja AS ) , maka sebenarnya dia telah menyangkal dirinya. Sekarang, Bagaimana cara Mengkondisikan Pancasila dalam globalisasi ? Pertama dan menurut saya yang paling penting yang harus kita lakukan adalah membenahi mentalitas pembangunan. Jika kita perhatikan kehidupan masyarakat Barat dan masyarakat Timur, akan tampak adanya perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar dalam hal mentalitas. Pada mentalitas masyarakat Barat cenderung lebih menekankan pada hal-hal :

  • Kebendaan
  • Pikiran logis
  • Hubungan asas guna
  • Individualisme.

Sedangkan pada mentalitas masyarakat Timur cenderung lebih menekankan pada hal-hal:

  • Kerohanian
  • Mistik
  • Pikiran prelogis
  • Gotong-royong (kekeluargaan).

Kedua mentalitas tersebut bila dicermati ada yang bersifat negatif dan ada yang bersifat positif. Namun, di antara keduanya tidak dapat dikatakan mentalitas yang satu lebih tinggi atau lebih baik dari mentalitas yang lain. Keduanya merupakan kondisi yang ada dan hidup di kedua kebudayaan masyarakat tersebut.

Dalam konteks kebudayaan masyarakat Indonesia terdapat mentalitas pembangunan yang perlu dikembangkan diantaranya :

  1. Pendidikan dan Pembinaan pengamalan sila pertama perlu dipandang bukan sebagai hasutan atau intimidasi dari kelompok tertentu dan tanpa mempertentangkan agama, yang terpenting adalah penghayatan kita kepada makna KeTuhanan Yang Maha Esa.

  1. Menilai lebih tinggi orientasi ke masa depan.

Manusia Indonesia tidak pernah maju seandainya tetap berorientasi pada masa lalu. Manusia Indonesia perlu mengarahkan orientasi kehidupannya pada masa depan. Perlu dicatat bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat, kehidupan bermasyarakat mengalami perubahan yang luar biasa. Perkembangan dan perubahan pada masa depan inilah yang perlu diantisipasi oleh manusia Indonesia.

  1. Lebih menilai tinggi hasrat eksplorasi.

Hal-hal yang bersifat baru tidak dapat diketahui atau ditemukan seandainya tidak ada hasrat eksplorasi, keinginan untuk memahami dan mengetahui hal-hal yang baru. Dan ingat Apa yang terjadi bila Thomas Alfa Edison berhenti pada percobaan kurang dari seribu kali, karena beliau menemukan lampu setelah percobaan bola lampu yang ke seribu kalinya.

  1. Lebih menilai orientasi kearah achievement tanpa mengesampingkan afiliatif.

Pencapaian hasil akhir merupakan tolok ukur keberhasilan suatu pembangunan. Dalamhal mentalitas pembangunan, orientasi kearah achievement merupakan hal yang patut dijunjung tinggi, tentu tanpa mengesampingkan afiliatif / hubungan kita terhadap Tuhan, sesama, dan lingkungan.

  1. Menilai tinggi mentalitas berusaha atas kemampuan sendiri.

Suatu pencapaian atau achievement akan lebih tinggi maknanya bila pencapaian tersebut merupakan hasil dari kemampuan sendiri bukan hasil dari manipulasi atau rekayasa yang bersifat negatif.

Disusun oleh:

CHRISTOFORUS DEBERLANDD

Suatu “makna” yang terlupakan dari lagu Totalitas Perjuangan. . . . .

Suatu “makna” yang terlupakan dari lagu Totalitas Perjuangan. . . . .

“Totalitas Perjuangan”

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

- Reff :
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

……………………………………

sesaat aku tercengang melihat kakak2ku dari BEM UI berorasi bak Singa meraung-raung di dalam kandang yang sempit, kotor, dan usang…tapi apakah auman2 dari pada singa2 podium yang memakai jaket kuning itu dapat terjadi dimasa depan……apakah idealitas yang selama ini dipegang teguh oleh para masiswa bisa menjadi realita di masanya kelak…..

Ataukah lirik lagu “totalitas perjuangan” hanya tinggal kenangan yang bisa dinyanyikan kala mereka masih muda dan beridealitas yang radikal…..Akankah muncul Indonesiaku yang kmarin baru saja berulangtahun ke-63 seperti yang ada dalam benak kami sekarang….akan kah muncul genersai emas yang selalu memegang teguh “ikrar bangkit Indonesia”

perlu diketahui juga kalau mahasiswa UI angkatan 1965 yang dulu juga sangat berani menolak korupsi…. melawan segala tindak kejahatan di Indonesia…..segenap mahasiswa UI angkatan ‘65 yang menamakan dirinya sebagai “BEM UI” yang rajin menyuarakan revolusi di berbagai sektor……NYATANYA SAAT INI BANYAK DIANTARA MEREKA YANG DUDUK DI KURSI PEMERINTAHAN DAN PARLEMEN TETAPI BERLAKU TIDAK ADIL, MELAKUKAN TINDAK PIDANA KKN,MENJADI PEMIMPIN YANG DIANGGAP GAGAL OLEH PARA GENERASI SKARNG!!!!!!!!!!

BAGAIMANAKAH PERASAAN KITA MENERIAKKAN “BANGKIT INDONESIA” BILA NANTINYA “DE~ JA VU?????

Sabtu, 02 Agustus 2008

Neutron KKN dalam Reaksi Fisi Bangsa Indonesia

Reaksi fisi Uranium dibawah ini menunjukkan suatu reaksi pembelahan inti dimana U membelah menjadi intiBa dan inti Kripton Kr. Reaksi dimulai dengan U menyerap sebuah neutron lambat, menghasilkan suatu inti gabungan U-326. Inti gabungan tidak stabil ini meluruh dengan cepat menjadi Ba, Kr, dan 3 buah neutron.

Menurut saya, Reaksi Fisi Uranium-235 mirip seperti proses pertumbuhan KKN di Indonesia.

Jika sebuah neutron lambat yang diserap oleh Uranium-235 kita anggap sebagai bibit-bibit korupsi, kolusi, dan nepotisme yang diwariskan oleh pendahulu kita pada zaman penjajahan, dimana feodalisme dan kolonialisme merajalela. Sedangkan Uranium-235 dianggap sebagai Bangsa Indonesia yang baru berkembang dan berjalan menjauhi feodalisme, imperialisme, dan kolonialisme, dan belum memiliki perisai prinsip yang kuat sehingga sangat reaktif terhadap “neutron lambat” tadi. Tentu reaksi tadi menghasilkan Inti gabungan yang tidak stabil seperti Bangsa Kita yang tidak stabil sehingga cepat “meluruh” menjadi Ba-141 yang saya anggap sebagai kebodohan, Kr-92 sebagai kemiskinan, dan tentunya tiga buah neutron perlambang “cucu-cucu” dari KKN tadi.

Tiap pembelahan satu inti U-235 menghasilkan rata-rata 2,5 neutron dan tiap neutron yang dibebaskan dapat diserap oleh inti U-235 yang belum membelah untuk menghasilkan fisi U-235 lainnya. Dengan demikian menghasilkan Neutron yang lebih banyak, yang akan menghasilkan sederetan pembelahan inti sehingga semua inti U-235 yang tersedia habis membelah dengan cepat, maka ini adalah reaksi berantai tak terkendali ( uncontrolled chain reactions ). Terbayang oleh kita bagaimana dengan cepat dan tak terkendali-nya KKN menghabisi Bangsa Indonesia.

Maka membuat sebuah Reaktor Termal ( Thermal Reactor ) KKN adalah salah satu cara untuk mengamankan neutron-neutron KKN. Jika kita mencontoh reaktor atom pertama yang dibangun oleh Enrico Fermi ( 1942, Universitas Chicago, USA ) yaitu Rektor Termal Fisi yang memiliki 5 komponen dasar. Yang pertama adalah elemen bahan bakar guna memperkaya (menaikkan) isotop U-235, dengan kata lain memperkaya bangsa Indonesia dengan IMTAQ dan IPTEK sehingga menjadi lebih kuat fondasi bangsa kita. Yang kedua, Moderator neutron yang memperlambat kelajuan neutron, dengan kata lain menghambat laju KKN dengan membuat rambu-rambu dan pengawasan ketat bagi para “neutron KKN”. Yang ketiga ialah batang pengendali yang berguna untuk menyerap kelebihan neutron. Maka dibutuhkan sebuah lembaga seperti KPK yang bertugas menangkap dan menghukum para pelaku KKN dengan tegas dan tidak pandang bulu sesuai peraturan berlaku. Yang keempat adalah pendingin untuk suhu reaktor yang sangat tinggi. Pendingin disini berarti peredam segala dampak buruk yang disebabkan oleh KKN yang telah terjadi dengan membuka lapangan kerja bagi para pengangguran, memberikan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang bermutu tetapi terjangkau sesuai kemampuan tiap -tiap penduduk Indonesia. Dan yang kelima adalah perisai radiasi yang berguna untuk melindungi dinding reaktor dengan memantulkan neutron kembali ke perisai inti reaktor dan melindungi pekerja reaktor. Perisai radiasi itu tak lain adalah Doa, Doa seluruh bangsa Indonesia kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar bangsa ini terhindar dari “kebocoran reaktor” dan terhindar dari neutron KKN selanjutnya yang sangat fatal akibatnya sebagai ekses dari pertumbuhan KKN terdahulu.

Jadi, sudah harus kita buat Reaktor Termal Fisi KKN ala generasi muda Indonesia agar bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan moral, kemiskinan, dan kebodohan. Belum ada kata terlambat bagi siapapun yang mau berubah dan bangkit. Sebab seperti bunyi hukum pertama Newton yang berbunyi, “Benda yang mula-mula diam akan tetap diam jika resultan gayanya nol; benda akan mengalami percepatan jika padanya bekerja suatu gaya resultan yang bukan nol”, maka bangsa Indonesia juga akan tetap dalam keterpurukan, kemiskinan, dan kebodohan bila kita sebagai generasi muda Indonesia tidak dapat memberikan “resultan gaya” yang bisa membangkitkan Indonesia. Resultan gaya yang bisa menghambat laju neutron-neutron KKN sampai neutron itu berhenti berkembang. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki rasa sadar bahwa KKN itu berbahaya seperti halnya senjata pemusnah massal. Kita mulai dari diri kita sendiri dengan mendisiplinkan diri, menjaga kebersihan hati dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan MAJU BERSAMA, BERANTAS KKN !!!

BANGKITLAH INDONESIA-KU!!!

CHRISTOFORUS DEBERLAND

MaBa Jurusan Teknik Mesin FTUI.

0806329905.