MENGKONDISIKAN PANCASILA DALAM GLOBALISASI
Menurut Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, 1978, hal 13-45.
1. Mitos dan Mistik.
Manusia
2. Sinkretisme.
Adalah suatu paham yang berusaha memadukan unsur-unsur kepercayaan lama dengan unsur-unsur kepercayaan yang baru, tetapi unsur kepercayaan yang lama masih tetap dipertahankan. Contohnya, walaupun masyarakat
3. Hipokritis
Adalah sikap munafik atau suka berpura-pura, lain di muka lain di belakang. Orang
4. Feodalisme
Adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada atau mengagung-agungkan golongan yang memiliki modal. Segalanya ditentukan atasan. Kemerdekaan
5. Percaya Kepada Tahayul yang Sudah Dimodifikasi.
Tahayul pada masa sekarang berupa jargon-jargon, lambing-lambang dan semboyan-semboyan baru yang diyakini memiliki kekuatan tertentu atau pengaruh bagi manusia. Contohnya Tritura, Ampera, Orde Baru, Rule of Law, pemberantasan korupsi, serta insan pembangunan. Ucapan atau semboyan tersebut dijadikan “mantera” dan “jimat”, yang jika diucapkan akan langsung terlaksana, tanpa kerja dan usaha. Pertanyaan yang harus kita jawab adalah apakah manusia
6. Tidak hemat Atau Bukan Economic Animal ( konsumerisme ).
Perubahan pola hidup seiring dengan meningkatnya kemampuan ekonomi mendorong orang berperilaku konsumtif, yang sifatnya memakai tetapi tidak dapat membuat atau mencipta. Sering kita mambeli barang-barang secara berlebihan yang kadang hanya untuk gengsi. Sikap seperti ini tidak hemat atau bukan animal economic. Untuk memenuhi keinginan tersebut kita bahkan mengeluarkan banyak uang yang belum diterima untuk membeli berbagai barang secara kredit.
7. Suka Menggerutu.
Banyak orang cenderung menggerutu sebagai wujud rasa tidak puas terhadap keinginannya. Sikap menggerutu dapat diartikan sebagai sikap yang tidak berani mengemukakan hal yang mengganjal di hatinya secara terbuka. Keluh kesahnya hanya dikemukakan di belakang orang yang membuatnya menggerutu. Karena keinginannya tidak tercapai, orang yang suka menggerutu menjadi iri dan dengki terhadap orang yang lebih maju atau lebih sukses daripada dia. Sehingga dia diam-diam berusaha menjatuhkan orang yang dicemburui atau yang tidak disukai tadi.
8. Falsafah Kebenaran.
Pada zaman sekarang kebenaran menjadi hal yang rancu. Kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah sebab kebenaran seringkali dimanipulasi. Kebenaran menjadi hal yang relatif, tergantung situasi dan kondisi. Unsur kekuasaan dan kedekatan dengan pusat kekuasaan seringkali menjadi unsur penentu sebuah kebenaran. Semakin sesuai pemikiran atau tindakan seseorang dengan kehendak dan kemauan penguasa, semakin benar pemikiran dan tindakan itu.
9. Suka Meniru.
Pada era globalisasi ini semua bangsa dengan berbagai upaya ingin menjadi bangsa modern, dengan mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Modern diartikan mengacu pada perkembangan masyarakat Barat. Negara-negara berkembang seperti
10. Rendahnya Etos Kerja
Suatu Masyarakat yang mamiliki watak budaya santai dalam bekerja, lebih suka bermalas-malasan, malas berpikir, malas bekerja, dan tergantung pada orang lain, maka warga masyarakat itu disebut mempunyai etos kerja rendah. Etos kerja yang rendah pada masyarakat
Semua hal yang diatas adalah sebuah bahan koreksi diri yang berguna bagi kita dan kelangsungan pancasila. Apakah kita membiarkan semangat pancasila itu semakin lama semakin luntur oleh hal yang tadi Bpk.Mochtar Lubis sebutkan? Ketika seseorang yang mengaku sebagai nasionalis yang paten merendahkan negara Barat (sebut saja AS ) , maka sebenarnya dia telah menyangkal dirinya. Sekarang, Bagaimana cara Mengkondisikan Pancasila dalam globalisasi ? Pertama dan menurut saya yang paling penting yang harus kita lakukan adalah membenahi mentalitas pembangunan. Jika kita perhatikan kehidupan masyarakat Barat dan masyarakat Timur, akan tampak adanya perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar dalam hal mentalitas. Pada mentalitas masyarakat Barat cenderung lebih menekankan pada hal-hal :
- Kebendaan
- Pikiran logis
- Hubungan asas guna
- Individualisme.
Sedangkan pada mentalitas masyarakat Timur cenderung lebih menekankan pada hal-hal:
- Kerohanian
- Mistik
- Pikiran prelogis
- Gotong-royong (kekeluargaan).
Kedua mentalitas tersebut bila dicermati ada yang bersifat negatif dan ada yang bersifat positif. Namun, di antara keduanya tidak dapat dikatakan mentalitas yang satu lebih tinggi atau lebih baik dari mentalitas yang lain. Keduanya merupakan kondisi yang ada dan hidup di kedua kebudayaan masyarakat tersebut.
Dalam konteks kebudayaan masyarakat
- Pendidikan dan Pembinaan pengamalan sila pertama perlu dipandang bukan sebagai hasutan atau intimidasi dari kelompok tertentu dan tanpa mempertentangkan agama, yang terpenting adalah penghayatan kita kepada makna KeTuhanan Yang Maha Esa.
- Menilai lebih tinggi orientasi ke masa depan.
Manusia
- Lebih menilai tinggi hasrat eksplorasi.
Hal-hal yang bersifat baru tidak dapat diketahui atau ditemukan seandainya tidak ada hasrat eksplorasi, keinginan untuk memahami dan mengetahui hal-hal yang baru. Dan ingat Apa yang terjadi bila Thomas Alfa Edison berhenti pada percobaan kurang dari seribu kali, karena beliau menemukan lampu setelah percobaan bola lampu yang ke seribu kalinya.
- Lebih menilai orientasi kearah achievement tanpa mengesampingkan afiliatif.
Pencapaian hasil akhir merupakan tolok ukur keberhasilan suatu pembangunan. Dalamhal mentalitas pembangunan, orientasi kearah achievement merupakan hal yang patut dijunjung tinggi, tentu tanpa mengesampingkan afiliatif / hubungan kita terhadap Tuhan, sesama, dan lingkungan.
- Menilai tinggi mentalitas berusaha atas kemampuan sendiri.
Suatu pencapaian atau achievement akan lebih tinggi maknanya bila pencapaian tersebut merupakan hasil dari kemampuan sendiri bukan hasil dari manipulasi atau rekayasa yang bersifat negatif.
Disusun oleh:
CHRISTOFORUS DEBERLANDD

